APIRMINTA JAGAT PRAMUDITA


Pada hari minggu, 20 Desember 2020 saya melaksanakan tugas dari legion 2019 awalnya saya mengelilingi kota Bandung untuk menemui orang yang terlihat membutuhkan sembako dari saya, awalnya saya berniat untuk memberi sembako saya kepada tukang becak di pinngir jalan, akan tetapi tukang becak tersebut tidak sendirian, tukang becak tersebut sedang berbincang dengan teman-temannya. Karena tujuan saya memberi sembako untuk satu orang saja. Lalu saya kembali melewati tempat-tempat yang memungkinkan ada orang yang membutuhkan sembako dari saya, saya melihat bapak-bapak yang sedang berdagang balon tetapi saya berfikir akan kesulitan untuk bapak-bapak tersebut untuk membawa sembako dari saya, selanjutnya saya melihat ibu-ibu membawa gerobak sampah namun ibu-ibu itu sedang menggunakan handphone yang cukup bagus sehingga tidak membuat saya iba kepada ibu-ibu tersebut, selain itu alasan saya tidak memberikan sembako saya kepada ibu-ibu tersebut. Akhirnya saya menemukan salah satu sosok bapak-bapak yang menurut saya bapak ini layak untuk mendapatkan sembako dari saya, tepat di Jalan Citarum lebih yaitu dekat masjid istiqamah , saya menemui seorang lanjut usia.  yang sedang berjualan kerupuk ketan atau orang sunda menyebutnya kerupuk opak . Beliau sepertinya sedang beristirahat dipinggir jalan karena beliau terlihat kelelahan dan saya lihat dagangan beliau masih banyak yang belum terjual. Tanpa pikir panjang saya langsung memberhentikan kendaraan saya dan langsung turun untuk membeli dagangan beliau dan memberi sembako saya kepada beliau. Ada perasaan iba dan ingin langsung menemuinya dan membeli dagangannya karena terlihat masih penuh dagangannya . saya bertanya kepada beliau berapakah harga kerupuk yang beliau jual, beliau langsung menyebutkan nominal harga kerupuk yang beliau jual. Saya pun langsung membeli 2 bungkus dagangan bapak tersebut. Saya bertanya kepada bapak tersebut siapa namanya, lalu beliau menjawab nama bapak tersebut adalah bapak Agus. Saya juga menanyakan dimana rumah pak Agus tersebut, pak Agus menjawab rumah pak Agus berada di Kopo. Saya langsung terdiam merenung beberapa detik membayangkan apakah bapak tersebut membawa jualannya sebanyak ini dengan berjalan kaki, lalu saya menanyakan apakah pak Agus membawa dagangan sebanyak ini dengan berjalan kaki? Bapak tersebut menjawab tidak, ia menaiki transportasi umum yaitu bus. Tetapi tidak sepenuhnya ia menggunakan bus, ia mengelilingi Bandung dengan berjalan kaki, saya sangat iba karena saya membayangkan dagangan bapak Agus ini tidak ringan walaupun hanya membawa kerupuk tetapi saya tahu itu tidak segampang yang orang lihat. Lalu bapak ini bercerita bahwa beliau menderita penyakit stroke. Saya melihat bapak Agus terlihat sangat lelah karena hari sudah mulai menjelang malam tetapi dagangannya terlihat masih penuh, bapak Agus menceritakan bahwa ia menderita stroke sudah lama, yang notabene nya jika ia kambuh, maka ia tidak bisa berjualan dengan maksimal. Beliau lebih sering beristirahat karena jika penyakitnya kambuh ia tidak bisa menggunakan tangan dan kakinya secara maksimal. Saya bertanya lagi kepada beliau apakah bapak Agus memiliki alat tambahan untuk membantu beliau berjalan? Jawaban beliau ialah iya, bapak Agus memiliki alat bantuan yaitu tongkat untuk membantu beliau berjalan, saya tidak bisa membayangkan bagaimana beliau berjualan sembari menggunakan tongkat, pasti sangat sulit tetapi pak Agus tidak pernah mengeluh dan tetap semangat untuk mencari rezekinya, ia percaya bahwa Tuhan yang maha kuasa tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan hambanya. Pak Agus selalu optimis dalam menjalankan hidup. Hal itu membuat saya tersadar akan hidup harus selalu bersyukur karena masih mempunyai tubuh yang sehat, lengkap dan ekonomi yang mencukupi. Saya juga bertanya kepada pak Agus apakah dirumahnya masih ada keluarga? Syukur pak Agus masih mempunyai istri dan anak yang sama-sama membantu untuk tetap menjalani hidup. Pak Agus berkata jika beliau masih berjualan hingga larut malam, beliau tidak akan bisa pulang menaiki transportasi umum, yang beliau lakukan ialah hanya terus berjalan atau menumpang mobil buntung yang mau ditumpangi oleh pak Agus, apa lagi di masa pandemi seperti ini jalanan sebelum larut malam pun sudah terlihat sepi. Saya bertanya tanggapan pak Agus tentang masa pandemi Covid-19 yang beum berakhir ini. Ia mengatakan penjualannya lumayan turun karena jarang orang yang sengaja turun dari kendaraannya untuk membeli dagangan pak Agus dikarenan covid-19 ini membuat orang menjadi takut untuk bertemu orang yang tidak dikenal termasuk pak Agus ini .Saya merasa iba dan tersentuh mendengar perkataan dari pak Agus yang masih bersemangat berjualan meskipun ia menderita sakit. Ia pun menceritakan alasan mengapa ia menjual keruruk opak . Ia berjualan kerupuk opak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Tetapi di kondisi seperti ini pendapatan pak Agus lebih sedikit dari sebelumnya

 

Alasan saya memilih pak agus sebagai objek tersebut sebagai objek penelitian tersebut karena saya merasa tersanjung melihat pak Agus yang sudah tua masih semangat berjualan meskipun menderita penyakit stroke dan rumahnya jauh dari tempat dia berjualan dan ditengah kondisi covid-19  pak agus masih semangat banting tulang untuk keluarganya. Maka dari itu saya memilih pak Agus sebagai objek tugas legion ini, karena diluar sana banyak yang hanya meminta atau mengemis tidak berjuang seperti pak Agus. Selain itu berdasarkan pemaparan pak Agus beliau mengatakan semangat beliau berjualan karena impian beliau untuk pergi umroh bersama istrinya beliau adalah sosok kepala rumah tangga yang sangat hebat karena rela banting tulang meskipun kondisinya tak lagi kuat. Istrinya juga menjual kerupuk opak di sekitar rumahnya . Pak Agus berjualan jauh dari rumahnya yang dari kopo ke daerah Citarum yang jaraknya tidak dekat dari rumahnya. Saya merasa iba melihat beliau karena perjuangannya mencari sebuah rupiah karena itu saya menjadikan pak Agus ini sebagai objek saya dalam melaksanakan tugas charity legion ini.Tanpa pikir panjang saya pun langsung memberikan sembako untuk membantunya,dan akhirnya saya memberikan kepada orang yang tepat,tak lupa saya pun membeli dagangannya yang berharga Rp.25.000,00.Akhir dari cerita tersebut, Agus berkali kali melontarkan ucapan terima kasih kepada saya.Saya pun merasa senang karena sudah bisa berbagi bersama

 

Kesan saya dalam menjalani charity ini sangatlah senang.Saya merasa selama ini saya kurang peka terhadap orang orang di sekitar.Saya pun merasa kurang bersyukur dengan apa yang saya miliki.Ternyata masih banyak orang di luar sana yang lebih membutuhkan.Dengan adanya tugas ini,semua mahasiswa teknik industri dituntut untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar,seluruh mahasiswa dituntut untuk bisa memiliki jiwa sosial yang lebih.Pesan saya semoga acara ini tidak hanya terbatas pada tugas legion,semoga semua mahasiswa teknik industri bisa menjadi lebih baik lagi dan peduli terhadap lingkungan sekitar.Besar harapan saya agar semua orang termotivasi dengan kegiatan ini.Semua orang harus tersadar bahwa masih banyak diluar sana orang yang harus dibantu.Kita pun harus senantiasa bersyukur dengan apa yang kita punya.Karena orang orang diluar sana belum tentu bisa seperti kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS LEGION

TUGAS LEGION 2019 DAY 2